Contact Info
Cyber 2 Tower, 34th Floor
Jl. HR Rasuna Said, Block X-5 No. 13
Kuningan Timur, Setiabudi
South Jakarta 12950
Indonesia
corsec@alamtriminerals.id +6221 2553 3060
08 June 2026
Direct Links

Bahlil Bakal Relaksasi Kuota RKAB Batu Bara: Harga Bagus, Produksi Ditingkatkan

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah bakal merelaksasi kebijakan pengetatan kuota produksi batu bara dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026.

Semula, pemerintah berencana memangkas produksi batu bara ke level 600 juta ton pada tahun ini. Terbaru, Bahlil menuturkan bahwa pemerintah bakal melakukan relaksasi pembatasan produksi. Hal ini tak lepas dari fluktuasi harga batu bara.

Bahlil menjelaskan, pemerintah masih memperhatikan perkembangan ketegangan geopolitik dan permintaan batu bara global. Menurutnya, secara ideal produksi batu bara Indonesia harus ditingkatkan jika harga sedang tinggi.

Dia menekankan bahwa langkah tersebut diambil demi keuntungan negara, pelaku usaha, dan masyarakat umum.

"Nah, atas dasar itu kita selalu mengikuti perkembangan dengan kita akan melakukan relaksasi yang terukur. Artinya, kalau harganya bagus kita akan meningkatkan produksi. Kalau harganya mulai mentok kita juga akan membuat kebijakan agar supply and demand itu bisa kita jaga," jelas Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (8/6/2026).

Pada awal Januari 2026, Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah bakal memangkas produksi batu bara menjadi di level sekitar 600 juta ton tahun ini. Jumlah tersebut jauh di bawah realisasi produksi batu bara nasional pada 2025 yakni sebesar 790 juta ton dan sebesar 834 juta ton pada 2024.

Dia menuturkan, pemangkasan kuota produksi RKAB 2026 tersebut bertujuan untuk mengungkit harga batu bara yang terus melemah imbas kelebihan pasok di pasar global. Menurutnya, Indonesia turut memiliki andil besar dalam pasokan batu bara global. Dari 1,3 miliar ton volume batu bara yang diperdagangkan di dunia, kata Bahlil, Indonesia menyuplai sekitar 514 juta ton atau 43% dari pasokan batu bara global.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batu bara sepanjang Januari—April 2026 mencapai US$7,57 miliar. Angka itu turun 7,27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$8,17 miliar.

Penurunan itu sejalan dengan kontraksi volume ekspor sebesar 6,7% secara tahunan, dari 122,76 juta ton menjadi 114,54 juta ton.

Pelemahan tersebut menjadikan batu bara sebagai satu-satunya komoditas unggulan ekspor Indonesia yang mencatatkan kinerja negatif pada 4 bulan pertama tahun ini.