Contact Info
Cyber 2 Tower, 34th Floor
Jl. HR Rasuna Said, Block X-5 No. 13
Kuningan Timur, Setiabudi
South Jakarta 12950
Indonesia
corsec@alamtriminerals.id +6221 2553 3060
12 March 2026
Direct Links

Harga Aluminium Menanjak Khawatir Pasokan Ketat Akibat Perang Iran

Bisnis.com, JAKARTA — Harga aluminium tercatat mengalami kenaikan seiring berlarut-larutnya perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran di Timur Tengah. Kekhawatiran gangguan pasokan mengerek harga aluminium untuk hari ketiga berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, harga aluminium naik 1% menjadi US$3.492,50 per ton di LME pada pukul 10.55 waktu Shanghai. Sedangkan harga logam lainnya bergerak bervariasi, dengan harga tembaga turun 0,6% menjadi US$12.957,50.

Adapun, harga tembaga sempat ditutup di level tertinggi sejak April 2022 pada Rabu (11/3/2026) karena perang di Iran memaksa pemangkasan produksi di sejumlah smelter kawasan Timur Tengah.

Timur Tengah telah menjadi penyumbang sekitar 9% dari produksi aluminium global. Saat ini, Selat Hormuz juga masih efektif tertutup sehingga pengiriman tidak dapat melewati jalur sempit itu untuk mencapai pasar global.

Harga energi hingga logam di pasar komoditas terguncang akibat pertempuran antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026. Serangan militer telah meluas di seluruh kawasan ketika Teheran berupaya merespons gelombang serangan udara.

Lalu lintas kapal komersial melalui Selat Hormuz hampir sepenuhnya terhenti, sehingga menekan rantai pasokan dan memicu ancaman gelombang inflasi.

Menurut unit Fitch Solutions Inc. yaitu BMI, harga aluminium masih berpotensi mengalami kenaikan signifikan dengan kemungkinan bergerak menuju level US$3.700 per ton.

"Lonjakan premi di Amerika Serikat dan Eropa mencerminkan peningkatan kekhawatiran di kalangan pembeli Barat," tulis BMI dalam catatan, dikutip Bloomberg pada Kamis (12/3/2026).

Adapun, perkembangan terbaru secara signifikan meningkatkan kemungkinan terjadinya pengetatan pasokan yang lebih akut. BMI memperkirakan pasar aluminium global akan mengalami defisit yang lebih dalam sebesar 1,06 juta ton tahun ini.

Tanda-tanda pasokan yang semakin ketat mulai muncul, dengan adanya pesanan dalam jumlah besar untuk menarik stok dari jaringan gudang London Metal Exchange (LME).

Menurut sumber yang mengerti kondisi di pasar menyebut Mercuria Energy Group Ltd. menjadi pedagang utama yang terlibat dalam permintaan penarikan hampir 100.000 ton aluminium dari gudang LME di Malaysia pada awal pekan ini.