Bisnis.com, JAKARTA — Pembeli aluminium di Amerika Serikat (AS) bergegas mencari sumber pasokan alternatif dari Asia setelah perang Iran mengganggu rantai pasok global, yang berpotensi mendorong kenaikan harga logam penting bagi industri otomotif, peralatan rumah tangga, hingga kemasan minuman.
Melansir Bloomberg, penghentian efektif pengiriman melalui Selat Hormuz telah memaksa dua produsen besar aluminium di kawasan Teluk, yakni Qatar dan Bahrain, menangguhkan pengiriman kepada pelanggan. Padahal, Amerika Serikat sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan aluminium domestik, dengan pasokan dari Timur Tengah menyumbang hampir seperlima impor tahun lalu berdasarkan data pemerintah.
Andy Massey, Wakil Presiden Metals, Procurement and Transportation Bonnell Aluminum, mengatakan perusahaannya tengah mencari sumber pasokan baru dari pasar seperti India dan Australia. Produsen berbasis di Georgia itu bahkan mempertimbangkan membeli aluminium dari pasar domestik untuk pengiriman jangka pendek jika tersedia logam yang tidak terikat kontrak tahunan.
“Kami semua sedang berpacu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan di Timur Tengah. Saya perlu menemukan pasokan alternatif dalam dua hari ke depan dan memastikan kami tidak membayar terlalu mahal,” kata Massey dikutip dari Bloomberg, Senin (9/3/2026).
Gejolak pasokan dari Timur Tengah datang pada saat yang sensitif bagi konsumen aluminium di Amerika Serikat. Sebelumnya, industri sudah menghadapi tekanan dari tarif impor logam yang diberlakukan Presiden Donald Trump, yang mendorong kenaikan harga domestik sekaligus membatasi arus pasokan dari Kanada, pemasok aluminium terbesar bagi AS.
Gangguan pasokan sekecil apa pun berpotensi memicu masalah bagi industri manufaktur, yang selama ini banyak mengandalkan sistem pembelian just-in-time untuk menjaga efisiensi produksi.
Perusahaan pemasok logam khusus yang berbasis di New Jersey, RM-Metals, juga menghadapi tantangan serupa. Wakil Presiden RM-Metals Sam Desai mengatakan sebagian pengiriman aluminium perusahaan saat ini masih tertahan di Dubai sehingga mereka terpaksa mencari alternatif.
“Korea menjadi opsi yang sangat baik saat ini,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa perusahaan juga tengah mempertimbangkan pasokan dari Eropa Utara. “Situasinya menjadi semakin sulit karena harga aluminium sendiri telah naik sejak perang Iran dimulai,” ujar Desai.
Harga aluminium di London Metal Exchange pada pekan ini melonjak ke level tertinggi sejak 2022. Sementara itu, premi Midwest AS tambahan harga di atas patokan global untuk pengiriman aluminium ke kawasan tersebut, naik ke rekor baru sebesar US$1,075 per pon.
Bahkan sebelum krisis Iran memanas, produsen Amerika sudah membayar harga aluminium termasuk yang tertinggi di dunia akibat tarif impor sebesar 50%.
Meski aluminium dari India menjadi salah satu opsi pengganti bagi konsumen Amerika, pengiriman melalui jalur laut melintasi Samudra Pasifik dapat memakan waktu sekitar 60 hari. Alternatif lainnya termasuk Brasil, Indonesia, Islandia, dan Norwegia.
Sementara itu, pengiriman dari Kanada yang selama ini menjadi pemasok utama bagi AS justru menurun seiring tarif impor yang diberlakukan Washington. Produsen Kanada kini lebih banyak mengalihkan ekspor ke Eropa yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan pasar Amerika.
Di sisi lain, pembeli aluminium di AS juga cenderung berhati-hati mengunci kontrak pasokan dalam volume besar karena ada kemungkinan tarif impor tersebut dilonggarkan atau bahkan dicabut dalam beberapa bulan mendatang.
Di tengah ketidakpastian tersebut, sekitar 6 juta ton aluminium primer kini disebut terdampar di Timur Tengah. Selain itu, sebagian besar smelter di kawasan tersebut hanya memiliki pasokan alumina, bahan baku aluminium sekitar 30 hari.
Jika konflik Iran berlanjut, produsen aluminium di kawasan Teluk berpotensi memangkas produksi karena risiko kekurangan alumina akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi itu dapat memberikan dampak berkepanjangan terhadap pasokan global.
Bank of America memperkirakan konflik regional tersebut akan memperburuk defisit aluminium global pada tahun ini.
“Mengingat Timur Tengah menyumbang sekitar 9% produksi global dan pasokan berada dalam risiko, kami menaikkan proyeksi kekurangan pasokan menjadi 1,5 juta ton dari sebelumnya 1 juta ton,” tulis analis Bank of America dalam riset terbaru.
Sejumlah produsen bahkan sudah mulai menghentikan operasi. Qatalum, perusahaan patungan antara produsen aluminium milik negara Qatar dan perusahaan Norwegia Norsk Hydro mengumumkan telah memulai penghentian produksi secara terkendali akibat kekurangan gas alam. Proses untuk kembali beroperasi penuh diperkirakan dapat memakan waktu enam hingga dua belas bulan.
Analis Wells Fargo Securities Timna Tanners menilai kondisi ini berpotensi menjadi awal dari gangguan yang lebih besar terhadap industri aluminium global.
“Ini bisa saja baru puncak gunung es. Jika lebih banyak smelter terdampak, maka dampaknya akan semakin besar,” ujarnya. “Smelter aluminium harus beroperasi penuh. Jika tidak, mereka akan berhenti. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan cepat,” pungkas Tanners.