Contact Info
Cyber 2 Tower, 34th Floor
Jl. HR Rasuna Said, Block X-5 No. 13
Kuningan Timur, Setiabudi
South Jakarta 12950
Indonesia
corsec@alamtriminerals.id +6221 2553 3060
06 February 2026
Direct Links

ESDM Berencana Kerek Porsi DMO Batu Bara di Atas 30%

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberi sinyal akan menaikkan porsi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) ke level di atas 30% pada tahun ini.

Wakil Menteri ESDM Yuliot tanjung mengatakan, kenaikan persentase DMO itu tak lepas dari wacana pemangkasan produksi emas hitam pada 2026.

"Kami akan perhatikan. Range-nya itu [kenaikan DMO] mungkin bisa lebih dari 30%," ucap Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Adapun, saat ini kewajiban pasokan DMO batu bara oleh pelaku usaha adalah 25% dari total produksi tahunan. Harga DMO untuk kelistrikan dipatok sebesar US$70 per ton dan untuk industri semen dan pupuk sebesar US$90 per ton.

Terkait harga, Yuliot juga memberi sinyal bahwa kelak harga DMO batu bara akan mengikuti harga pasar.

"Mengikuti harga pasar," katanya.

Lebih lanjut, Yuliot juga memberi sinyal kuota produksi batu bara 2026 bakal ditetapkan di atas level 600 juta ton. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan realisasi produksi batu bara pada 2025 yang mencapai 790 juta ton.

Dia menuturkan, angka tersebut mempertimbangkan proyeksi permintaan industri dalam negeri dan kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) PT PLN (Persero).

"Jadi, berdasarkan perhitungan dari dirjen minerba dan juga ini berdasarkan permintaan dari PLN dan juga industri dalam negeri, jadi perkiraan sekitar lebih dari 600 juta ton per tahun," ucap Yuliot.

Dia juga menegaskan bahwa pemangkasan produksi batu bara bertujuan untuk mengontrol produksi batu bara. Dengan begitu, harga batu bara di tingkat global bisa naik.

Maklum, RI merupakan salah satu negara produsen batu bara terbesar di dunia. Oleh karena itu, pengetatan produksi dinilai bisa menjaga harga.

Yuliot mencontohkan, pada 2025, rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) produksi batu bara yang disetujui mencapai 1,2 miliar ton. Namun realisasinya di bawah 800 juta ton. Menurutnya, produksi batu bara yang jor-joran membuat harga batu bara dunia turun.

"Jadi, dampaknya, kelebihan RKAB itu kan juga harga turun sangat signifikan. Jadi, karena harga turun signifikan, kami evaluasi kebutuhan industri di dalam negeri itu kira-kira berapa, kebutuhan energi primer untuk batu bara itu kira-kira berapa," tutur Yuliot.