Bisnis.com, JAKARTA — Harga bijih besi turun untuk hari ke-lima berturut-turut setelah Beijing mengonfirmasi penurunan besar dalam produksi baja. Tah hanya itu, kargo perdana datang dari tambang baru berskala besar di Afrika ke China turut menambah pasokan di pasar bijih besi seaborne.
Berdasarkan data Bloomberg, harga kontrak berjangka bijih besi sempat turun hingga 2,3% ke level US$103,95 per ton dan diperdagangkan di US$104,80 per ton pada pukul 11.57 waktu setempat. Penurunan harga ini merupakan yang terpanjang sejak November 2025.
Sementara itu, kontrak harga bijih besi di Dalian turun 2,5% menjadi 792 yuan per ton. Harga baja di Shanghai juga melemah.
Adapun, data resmi terbaru menunjukkan produksi baja di China selaku importir bijih besi terbesar dunia sudah menyusut lebih dari 4% menjadi sekitar 961 juta ton pada 2025. Angka ini merupakan total tahunan terendah sejak 2018.
"[Dari sisi pasokan], pengiriman pertama bijih besi dari tambang raksasa Simandou di Guinea tiba di China bagian timur pada Sabtu setelah menempuh pelayaran selama 46 hari menggunakan kapal Winning Youth," tulis China Baowu Steel Group Co. melalui akun resmi WeChat-nya, dikutip Bloomberg pada Senin (19/1/2026).
Sementara itu, kargo kedua telah berangkat dari negara Afrika tersebut pada akhir tahun lalu. Lebih lanjut, Tambang Simandou diperkirakan akan mencapai kapasitas produksi penuh sebesar 120 juta ton per tahun, yang akan menambah volume pasokan bagi para produsen baja.
Rio Tinto Group, yang memiliki saham di proyek tersebut, sebelumnya menyatakan rencana untuk meningkatkan operasi secara bertahap selama 30 bulan. Sementara itu, total perdagangan bijih besi dunia tahun ini diproyeksikan mencapai 1,77 miliar ton, berdasarkan perkiraan pemerintah Australia.
Harga berjangka bijih besi sepanjang 2025 sejauh ini relatif bertahan dengan kenaikan sekitar 4%. Namun, perubahan keseimbangan pasar seaborne berpotensi menekan harga pada kuartal-kuartal mendatang.
Meskipun pengisian ulang stok serta sengketa harga antara pembeli milik negara China Mineral Resources Group Co. dan BHP Group sempat menopang harga, kini mulai terlihat tanda-tanda pelonggaran kondisi pasar, termasuk dari sisi persediaan pelabuhan.
Shanghai SteelHome E-Commerce Co. menyampaikan persediaan bijih besi di pelabuhan-pelabuhan China juga meningkat selama tujuh minggu berturut-turut hingga mencapai 155,4 juta ton, level tertinggi sejak April 2022. Lonjakan terbaru ini terjadi setelah impor bijih besi mencetak rekor bulan lalu, meskipun produksi baja melambat.
“Persediaan bijih besi di pelabuhan China diperkirakan akan terus melonjak,” ujar Robert Rennie, Kepala Riset Komoditas di Westpac Banking Corp.
Dia menambahkan bahwa kondisi tersebut dikombinasikan dengan rekor impor ke China merupakan kabar buruk bagi pasar bijih besi. Gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pasar akan muncul pekan ini dari sejumlah produsen bijih besi terbesar dunia, seiring BHP, Rio Tinto, dan Fortescue Ltd. dijadwalkan merilis laporan kinerja operasional mereka.