Bisnis.com, JAKARTA - Jepang menggalang dukungan G7 dan sekutu untuk merespons pembatasan ekspor mineral tanah jarang (rare earth mineral) oleh China yang dinilai mengancam rantai pasok global.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan akan bertemu dengan para mitranya dari negara-negara demokrasi industri untuk membahas mineral kritis dalam kunjungannya ke Amerika Serikat yang dimulai pada Minggu.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dijadwalkan menggelar pertemuan dengan mitranya dari AS pada Kamis.
Di dalam negeri, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi juga akan menggelar pertemuan puncak dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pekan depan guna menegaskan kembali aliansi kedua negara, yang merupakan sekutu utama Amerika Serikat di kawasan.
"Kesepakatan mendasar di antara negara-negara G7 adalah bahwa tidak dapat diterima jika suatu negara mengamankan monopoli melalui cara-cara nonpasar,” ujar Katayama kepada wartawan dikutip dari Bloomberg pada Jumat (9/1/2026), merujuk pada langkah China terkait mineral kritis.
Dia menambahkan, hal ini menimbulkan krisis bagi perekonomian global dan sangat bermasalah bagi keamanan ekonomi.
Ketegangan antara dua ekonomi terbesar di Asia tersebut terus meningkat, memperpanjang sengketa yang bermula pada awal November, ketika Takaichi melontarkan pernyataan yang mengisyaratkan Jepang dapat mengerahkan militernya jika China menggunakan kekuatan untuk merebut Taiwan.
Menyusul sejumlah langkah terbaru dari Beijing—mulai dari pembatasan ekspor baru yang berpotensi memengaruhi mineral tanah jarang hingga penyelidikan antidumping terhadap bahan utama pembuatan chip—Jepang tampak berupaya merangkul sekutu-sekutunya untuk memperkuat posisinya.
Sebelumnya pada Jumat, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menyerukan agar pengiriman mineral tanah jarang dan pangan dapat berlangsung lancar, menyusul laporan bahwa Beijing menghambat perdagangan komoditas tersebut.
Kihara enggan mengomentari transaksi individual oleh perusahaan swasta, namun menegaskan pemerintah Jepang memantau perkembangan secara cermat dan akan mengambil langkah yang diperlukan.
“Saya meyakini perdagangan internasional mineral tanah jarang seharusnya berjalan lancar, dan hal ini sangat penting,” ujar Kihara dalam konferensi pers.
Dia menambahkan, langkah pengendalian ekspor China terhadap mineral tanah jarang dan material lainnya telah berlangsung selama beberapa waktu dan memberikan dampak serius terhadap rantai pasok global.
Menurut laporan Wall Street Journal, China disebut mulai menahan ekspor mineral tanah jarang dan magnet berbasis tanah jarang ke Jepang. Namun, sebuah perusahaan Jepang yang mengimpor mineral tanah jarang dari China belum menerima pemberitahuan mengenai penghentian proses aplikasi ekspor setidaknya sejak Kamis hingga Jumat siang, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut.
Katayama menyatakan akan mengonfirmasi transaksi terkait dengan otoritas bea cukai Jepang.
Pekan ini, China mengumumkan pembatasan ekspor baru atas barang-barang penggunaan ganda (dual-use) yang berpotensi meningkatkan kemampuan militer Jepang. China juga meluncurkan penyelidikan antidumping terhadap produksi dichlorosilane Jepang, bahan penting dalam industri semikonduktor.
Jepang juga melayangkan protes atas pengerahan kapal pengeboran bergerak China di Laut China Timur.
Menurut Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa, dampak dari pembatasan terbaru atas barang dual-use masih sulit dinilai karena detailnya belum sepenuhnya jelas.
Dia menambahkan, pembatasan China terhadap ekspor mineral tanah jarang—yang digunakan dalam berbagai produk seperti kendaraan dan elektronik—telah diberlakukan sejak April tahun lalu dan memengaruhi sejumlah industri di Jepang, sehingga sebagian perusahaan menyesuaikan produksi.
“Kami saat ini tengah menelaah dampaknya terhadap perekonomian Jepang. Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara tegas dan tenang, setelah mempertimbangkan situasi secara menyeluruh dari berbagai sudut pandang," ujar Akazawa pada Jumat.
Sementara itu, Takaichi dijadwalkan bertemu Presiden Korea Selatan Lee pada Selasa dan Rabu di prefektur asal perdana menteri, yang akan disusul dengan kunjungan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni ke Jepang pada 15–17 Januari.
Kihara menambahkan, pentingnya hubungan Jepang–Korea Selatan serta kerja sama Jepang–Korea Selatan–Amerika Serikat telah meningkat secara signifikan.
“Kedua pemerintah sepakat untuk menjalin komunikasi yang erat, termasuk melalui diplomasi shuttle, guna memastikan perkembangan hubungan Jepang–Korea Selatan yang stabil dan berorientasi ke depan. Kami berharap kunjungan ini menjadi momentum penting," jelasnya.